Langsung ke konten utama

Postingan

Pawai obor jadi tradisi Tahun Baru Islam di Bogor!

Sabtu, 31 Agustus 2019. Waktu menunjukkan pukul 20.00 WIB. Malam ini merupakan malam perayaan tahun baru hijriah. Jalan2 diramaikan oleh pawai obor. Beberapa tahun belakangan, pawai obor sudah menjadi tradisi di kalangan masyarakat terutama masyarakat bogor ini. Sudah tiga rombongan pawai melintasi depan rumah kami. Baik pria atau wanita, anak kecil atau lansia, semua tergabung dalam iringan. Sembari membawa obor di tangannya dan solawat nabi yang silih bersahutan. Jalanan mendadak ramai malam ini. Karena ini malam minggu, tentunya sedikit berbeda seperti biasanya. Kini nuansa islami lebih kentara daripada pasangan muda mudi yang berkeliaran. Selamat Tahun Baru Hijriah 1441 H :)

Cukup Menulis

Barisan syairku memang tak seindah Kahlil Gibran Pun tak seapik Chairil Anwar Tapi bolehkah aku belajar? Hingga setidaknya mampu dibaca saja Dan bermakna penuh manfaat Karena aku memang bukan pelajar jurusan sastrawan Tetapi Andrea Hirata seorang dari fakultas ekonomi Tulisannya melegenda seantero negeri Yang aku tahu… Menjadi penulis hebat bukanlah ahli di bidangnya atau belajar sesuai bidang Namun, bakat atau minat yang rela diasah Yang mau menulis kapanpun ia mau Yang mau menulis ketika inspirasi menjerat Maka membacalah jika mau menulis Maka tengok lingkungan sekitar jika mau menulis Meski tidak beraksi, setidaknya menginspirasi Boleh mengkritisi asal tidak menghakimi Karena kini hidup di zaman demokrasi Maka bebas saja apa yang mau diperbuat Lakukanlah apa yang dimau

Kicauan Pagi

  Pagi itu saya tersadarkan oleh Bapak berseragam coklat dengan banyak simbol. Dengan menggunakan toa, beliau berkicau menegur para pengendara yang tak taat aturan. "Yang muda yang tua sama saja, yang tua tidak mau mengingatkan, yang muda tidak mau belajar. Mau jadi apa semuanya?!"katanya. "Kalau mau cepet, ya berangkat subuh!" lanjutnya. Kemacetan akibat lampu merah di perempatan jalan membuat para pengendara khususnya sepeda motor bertindak semaunya. Mereka mencari jalan pintas dengan melintasi trotoar yang seharusnya area yang digunakan pejalan kaki, ada juga yang melewati ruko agar sampai lebih dahulu. Saya heran dengan orang Indonesia. Seakan sabar tak pernah melekat dalam kehidupannya.    Meski pemerintah membuat peraturan sebagus apapun, dirasa tak menimbulkan dampak apapun. "Aturan dibuat untuk dilanggar" itu slogan yang pantas untuk ditempel di setiap sudut jalan raya.    Negara maju seakan jadi bayangan yang sulit diraih. Sistem yang terstruktu...

Kurangnya Kepedulian terhadap Sesama

   Siang ini lumayan terik, hingga membuat ku singgah di pelataran masjid kampus. Disana ada beberapa pepohononan yang lumayan sejuk jika diam disana. Aku terduduk sambil membaca sebuah buku sambil menunggu jam kuliah tiba. Nampak ada pemandangan yang membuat hatiku tergugah untuk menulis.    Seorang wanita paruh baya membawa sekantong plastik warna hitam yang didalamnya terdapat aneka makanan seperti pastel, snack, dan lainnya. Wanita itu duduk agak berjauhan denganku. Tapi yang membuatku terhenyak, tak ada seorang pun yang membeli jajanannya termasuk juga aku yang tidak membelinya hehe.    Ternyata masih banyak orang yang belum mempunyai rasa peduli terhadap sesama. Karena ketika kuperhatikan orang-orang di sekeliling, tidak ada yang melirik sama sekali dengan jajanan yang dijual ibu itu. Setelah beberapa menunggu, akhirnya ibu itu pun pergi. Mungkin ia menyerah karena tidak ada yang beli. Sebenarnya aku merasa kasihan, namun ternyata rasa peduliku masi...

Karena Pekerjaan itu Dihargai bukan Dikasihani !

Setiap hari aku selalu pulang kuliah menggunakan angkot. Dan dari situlah terselip kisah antar para pengamen dan penumpang yang ada di angkot. Meski sebenarnya kita tahu bahwa bukan hanya di angkot, kita akan temukan pengamen.             Sore tadi aku berfikir, ada seorang pengamen menyanyikan lagu “Terbaik Untuk Ayah” dengan suara yang cukup merdu dan aku rasa dia pantas untuk mengikuti kontes menyanyi atau ajang pencarian bakat di televisi. Setelah dia puas membawakan satu lagu hingga selesai. Dia melepaskan topi dan menyodorkannya ke para penumpang. Wajar sih jika memang banyak yang menyumbangkan uang recehnya kepada sang pengamen itu. Karena suaranya memang bagus dan menghibur.             Lain lagi ceritanya dengan para pengamen yang melalu-lalang di setiap lampu merah. Jika dibilang sebagai pengamen sih aku rasa tidak pantas. Karena dandannya begitu brutal sepert...